Kelimpahan yang Kurang Kita Syukuri | Hal-hal besar yang kita anggap biasa.


Kelimpahan yang kurang kita syukuri

Kelimpahan yang kurang kita syukuri

Ketika Kelimpahan Menjadi Biasa, dan Mengapa yang Sedikit Justru Terasa Mewah

 

Ada paradoks kecil dalam hidup manusia: yang melimpah sering terasa biasa, sementara yang jarang justru terasa mewah.

Contoh paling sederhana adalah matahari.

Di negeri tropis seperti Indonesia, matahari hadir hampir setiap hari. Ia bangun lebih pagi dari kita, menjemur halaman, memanaskan genteng, bahkan kadang terlalu rajin sampai orang mengeluh, “Aduh panas banget!”

Tetapi coba tanyakan kepada orang yang tinggal di Norway atau Sweden.

Di sana, matahari tidak selalu rajin muncul. Pada musim dingin, langit sering seperti wajah orang yang sedang ngambek: abu-abu, dingin, dan pelit cahaya.

Ketika matahari akhirnya muncul, orang-orang keluar rumah seperti ada festival nasional kecil-kecilan.

Taman penuh. Kursi kafe langsung ludes. Bahkan ada yang duduk di trotoar hanya untuk menikmati sinar matahari.

Di negeri yang mataharinya melimpah, orang mencari AC.
Di negeri yang mataharinya langka, orang mencari kursi menghadap matahari.

Ironi kecil kehidupan.

Kelimpahan Membuat Kita Lupa Rasanya

Psikologi modern menyebut fenomena ini sebagai adaptasi hedonik.

Manusia sangat cepat terbiasa dengan apa yang dimilikinya.

Ketika sesuatu selalu ada, otak  menganggapnya bukan hal istimewa.

Udara.
Air.
Kesehatan.
Keluarga.

Semua itu sering terasa biasa saja… sampai suatu hari tidak ada.

Lucunya, manusia bisa sangat pandai mensyukuri hal-hal besar di media sosial, tetapi sering lupa pada hal-hal sederhana yang sebenarnya menopang hidupnya setiap hari.

Kita menulis status panjang tentang “bersyukur atas kehidupan”, tetapi tetap mengeluh saat listrik mati lima menit.

Padahal di banyak tempat di dunia, listrik bukan sesuatu yang otomatis datang seperti notifikasi WhatsApp.

Satire Kecil: Air Mineral yang “Naik Kelas”

Mari ambil contoh lain yang cukup lucu: air.

Di rumah kita, air keran sering dianggap hal biasa. Kadang malah dibiarkan mengalir tanpa dipikir panjang.

Tetapi coba lihat bagaimana air berubah status ketika dimasukkan ke dalam botol kaca elegan, diberi label asing, dan dijual di restoran mahal.

“Mineral water imported from mountain spring.”

Harganya pun berubah drastis.

Air yang sama, tetapi karena menjadi jarang dan dikemas elegan, tiba-tiba terasa seperti simbol kemewahan.

Ini seperti seseorang yang tidak pernah dianggap spesial di kampungnya sendiri, tetapi begitu pergi ke luar negeri, tiba-tiba dianggap “talenta global”.

Kadang yang berubah bukan nilainya, tetapi jaraknya.

Matahari yang Tidak Pernah Kita Rayakan

Di banyak kota tropis, matahari justru sering dianggap musuh kecil.

Orang menghindarinya dengan:

  • payung
  • topi
  • sunscreen
  • atau berlindung di balik gedung tinggi

Padahal jika kita sedikit mundur dari rutinitas, matahari adalah salah satu kemewahan terbesar kehidupan.

Matahari:

  • menumbuhkan padi
  • mengeringkan pakaian tanpa listrik
  • menghangatkan bumi
  • memberi energi bagi hampir semua kehidupan

Namun karena ia datang setiap hari tanpa absen, kita berhenti menganggapnya istimewa.

Manusia memang aneh.

Jika sesuatu datang setiap hari, kita menganggapnya biasa.
Jika sesuatu datang sekali setahun, kita membuat festival.

Kelangkaan Menciptakan Nilai

Dalam ekonomi ada hukum sederhana: scarcity creates value. Kelangkaan menciptakan nilai.

Itulah sebabnya:

  • berlian mahal
  • emas mahal
  • tiket konser mahal
  • waktu orang sibuk terasa mahal

Lucunya, hukum ini juga bekerja dalam kehidupan emosional.

Perhatian yang jarang diberikan terasa sangat berharga.
Senyum yang jarang muncul terasa sangat tulus.
Waktu yang jarang tersedia terasa sangat mahal.

Ada nasihat sederhana yang kadang terdengar satir:

Jika ingin dihargai, jangan terlalu sering tersedia.

Tentu ini bukan ajakan untuk menjadi sok mahal, tetapi hanya pengingat bahwa nilai sering muncul dari keterbatasan.

Hikmah dari Matahari

Jarang disyukuri

Matahari mengajarkan pelajaran sederhana tetapi dalam.

Ia tidak pernah menuntut kita untuk bersyukur. Ia hanya datang setiap hari.

Dan justru karena ia selalu ada, kita sering lupa menghargainya.

Mungkin banyak hal dalam hidup kita sebenarnya seperti matahari:

  • keluarga yang selalu ada
  • teman yang selalu siap mendengar
  • kesehatan yang selama ini bekerja diam-diam

Selama semuanya berjalan normal, kita tidak merasa itu istimewa.

Baru ketika sesuatu hilang, kita berkata:

“Seandainya dulu aku lebih menghargainya.”

Mewah Itu Kadang Hanya Soal Perspektif

Kemewahan sering kita bayangkan sebagai sesuatu yang mahal: mobil mewah, hotel bintang lima, atau jam tangan mahal.

Tetapi kadang kemewahan justru sangat sederhana.

Bagi orang yang sakit lama, sehat adalah kemewahan.
Bagi orang yang kesepian, percakapan hangat adalah kemewahan.
Bagi orang yang hidup di negara dingin, matahari adalah kemewahan.

Jadi mungkin kemewahan tidak selalu tentang harga.

Sering kali kemewahan hanya tentang kesadaran.

Kesadaran bahwa apa yang kita miliki hari ini, bagi orang lain bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Penutup: Belajar Mensyukuri yang Terlalu Biasa

Barangkali kebijaksanaan hidup bukan hanya tentang mencari hal-hal besar, tetapi juga tentang belajar melihat keajaiban dalam hal-hal yang terlalu biasa.

Matahari pagi.
Udara yang bisa dihirup.
Air yang mengalir.
Orang-orang yang masih ada di sekitar kita.

Semua itu datang setiap hari tanpa iklan, tanpa promosi, tanpa harga tiket.

Dan mungkin justru karena itulah kita sering lupa bahwa kita sedang hidup di tengah kemewahan yang diam-diam.

Kemewahan yang bernama: kelimpahan yang tidak kita sadari.

Kelimpahan yang jarang disyukuri


Baca Juga Artikel Terkait :

  1. Tentang Wisata Puncak & Mindset Kehidupan
  2. Rekomendasi Villa di Puncak Untuk Healing  Training & Gathering
  3. Info Link Villa Murah di Puncak Dengan Harga Diskon Traveloka